SEDEKAH TIDAK MENGURANGI HARTA

SEDEKAH TIDAK MENGURANGI HARTA

Rosulullah  merupakan suri tauladan yang terbaik bagi manusia, diantara hal yang bisa kita contoh dari diri Rosulullah ﷺ adalah kedermawanan beliau kepada sesama. Bahkan hal yang demikian diceritakan oleh salah seorang sahabat nabi yang bernama ‘Abdullah bin ‘Abbâs beliau pernah mengatakan :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ, وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ, وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ, فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

Nabi ﷺ adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika malailkat Jibril bertemu dengannya. Jibril Alaihissallam menemuinya setiap malam Ramadhan untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhori dan Muslim) ﷻ

Ibnu rajab mengatakan bahwa pada diri Rosulullah ﷺ terkumpul berbagai macam sifat dermawan: beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta, beliau mengorbankan jiwanya untuk agama, beliau juga memberikan manfaat kepada umat dengan berbagai macam cara, seperti memberi makan kepada mereka yang kelaparan, memberikan nasehat kepada yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesusahan bagi mereka yang membutuhkan. (lihat kitab Lathoif Al Ma’arif ibnu rajab, Daar Ibn Khuzaimah KSA, Cet.I, 2007, hal: 384)

Sedekah merupakan salah satu amalan mulia yang siapa saja bisa melakukannya, baik dia adalah orang yang kaya maupun yang miskin, karena sedekah memiliki makna yang sangat luas dan bukan hanya berkaitan dengan harta saja. Banyak cara untuk kita dapat bersedekah, seperti memberikan senyuman kepada orang lain, membaca dzikir-dzikir yang diajarkan Rosulullah ﷺ, menyelesaikan perkara antara dua orang yang sedang berselisih, menolong orang lain dengan mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya, berkata baik, begitupula dengan berjalan kaki ke masjid/musholla untuk melaksanakan sholat wajib adalah sedekah, serta menyingkirkan atau mengambil gangguan/rintangan di tengah jalan juga merupakan sedekah.

Sedekah Dengan Harta

Seseorang yang bersedekah tidaklah mengurangi hartanya, sebagaimana sabda nabi ﷺ  yang mulia didalam haditsnya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, No: 2588)

Imam Nawawi menjelaskan makna hadits tersebut dengan dua penafsiran;

Pertama, harta yang disedekahkan akan diberkahi oleh Alloh ﷻ dan akan dihilangkan darinya berbagai macam bahaya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya, dan ini bisa dirasakan secara indrawi dan kebiasaan.

Kedua, walaupun harta tersebut secara nampak berkurang, namun kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala yang Alloh berikan serta akan terus bertambah dengan kelipatan yang banyak. (lihat kitab Syarh Shohih Muslim Imam Nawawi, Jilid 16, Muassasah Qurtubah, Cet.I, 1991, hal. 213 )

Rasululloh ﷺ tidaklah mengucapkan suatu perkataan dengan hawa nafsunya semata, melainkan setiap ucapan beliau berdasarkan wahyu yang Alloh tuntun kepadanya. Secara kasat mata mungkin harta tersebut berkurang jumlahnya, namun pada hakikatnya harta tersebut akan terus bertambah disebabkan keberkahan yang ada didalamnya.

Alloh ﷻ berfirman:

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥۚ وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ  ٣٩

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah ﷻ akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba’ : 39).

Bahkan Alloh ﷻ memberikan permisalan didalam Al Qur’an bahwa orang yang berinfak dijalan Alloh seperti sesorang yang menanam sebuah benih biji yang tumbuh menjadi pohon yang memiliki banyak biji disetiap tangkainya, Allah berfirman :

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ  ٢٦١

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh ﷻ seperti menabur sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Alloh ﷻmelipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqoroh: 261)

Bayangkan jika kita berinfak misalnya Rp.1000 saja, jika dihitung dengan matematika dunia, maka hasil pahala yang bisa didapatkan adalah Rp.1000 x 7 = Rp.7000, kemudian dikalikan kembali dengan 100 maka pahala yang kita dapatkan sudah mencapai Rp.700.000. dari kita berinfak Rp.1000 saja maka kita sudah dapat menghasilkan pahala sebanyak Rp.700.000, itu baru dikalikan dengan matematika dunia, bagaimana dengan matematikanya Alloh? dan Alloh Maha mampu untuk melipatgandakan lagi bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jika pahala sedekah saja begitu besarnya, lantas apa yang membuat diri kita masih berat dan enggan untuk menyedekahkan harta?

Penulis : H. Nasrulloh Al Faruqi, S.Pd.I (Ketua 2 Bidang Sarana dan Pembangunan)

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *