“Muslim Harus Kaya ?”
Kekayaan merupakan hal yang banyak diinginkan oleh setiap orang. Terkadang ada orang yang beranggapan bahwa kemuliaan itu bisa didapatkan melalui kekayaan. Dan kemiskinan merupakan sebuah kehinaan bagi seseorang. Bahkan banyak di antara kita yang beranggapan bahwa tolak ukur kemulian itu dilihat berdasarkan pada harta yang dimiliki. Semakin banyak harta yang dimiliki maka semakin banyak pula orang yang memuliakan dirinya. Sehingga ada pendapat yang mengatakan bahwa seorang muslim itu harus kaya agar mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat. benarkah pendapat yang demikian?
Sebelum kita jawab, mari kita lihat beberapa dalil-dalil yang membicarakan tentang kemiskinan dan kekayaan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, bahwa pernah suatu ketika orang-orang fakir miskin dari kalangan Muhajirin mendatangi Rasulullahﷺ untuk mengadukan tentang apa yang Allahﷻ karuniakan kepada orang-orang kaya yang ada ditengah-tengah mereka. Lantas beliaupun bersabda:
يا مَعْشَرَ الفُقَرَاءِ، أَلَا أُبَشِّرُكُمْ؟ أَنَّ فُقَرَاءَ المُؤْمِنِيْنَ يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِم بِنِصْفِ يَوْمٍ، خَمْسَمِائَةِ عَام
“Wahai orang-orang fakir, maukah aku beritahukan kabar gembira kepada kalian? Bahwasannya orang-orang fakir dari kalangan orang yang beriman akan lebih dahulu masuk surga dari orang-orang kaya diantara mereka, yang perbedaan jaraknya adalah setengah hari yang sama dengan lima ratus tahun.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits ini menunjukan tentang keutamaan orang yang Allahﷻ takdirkan hidupnya menjadi orang miskin. Karena orang miskin lebih dahulu masuk surga dibandingkan dengan orang yang kaya, yang perbedaanya adalah setengah hari di akhirat, yang jika kita konversikan satu hari di akhirat itu setara dengan seribu tahun di dunia. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
﴿ …وَاِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَاَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ ٤٧ ﴾
“…Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47)
Bahkan ada hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menguatkan hadits diatas. Beliau ﷺ bersabda:
اطَّلَعْتُ في الجنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الفُقَرَاءَ
“Aku melihat disurga bahwa penduduk terbanyak disurga adalah orang-orang miskin. (HR. Bukhari)
Namun disisi lain banyak juga dalil-dalil yang menyebutkan tentang keutaman menjadi kaya, dan ada dorongan motivasi untuk kita ketika memiliki harta yang banyak, maka kita akan lebih mudah untuk menginfakkan harta tersebut di jalan Allahﷻ. Seorang yang memiliki kekayan tentu dapat lebih mudah untuk berinfak dan bersedekah dibanding dengan orang yang miskin. Melalui hartanya dia dapat menolong orang lain yang sedang memiliki kesusahan dan kesulitan hidup. Tentu ini merupakan keutamaan yang bisa didapatkan oleh orang kaya.
Bahkan nabi dan para sahabatnya yang termasuk sepuluh orang yang sudah dijamin masuk surga adalah orang-orang yang kaya, dan disebutkan pula bahwa kita diperbolehkan oleh nabi untuk iri (dalam kebaikan) kepada orang yang diberikan harta lebih oleh Allahﷻ yang mana ia gunakan harta tersebut dijalan Allahﷻ. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ، رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ، فَهُوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), maka ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ juga bersabda:
اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى
“Tangan diatas (memberi) itu lebih baik dari tangan yang dibawah (menerima).” (HR. Bukhari)
Tentu dengan membaca dua keutamaan diatas dengan dalil-dalil yang dikemukakan, kita akan berpandangan bahwa masing-masing dalil yang disebutkan seperti saling kontradiktif dan bertabrakan satu sama lain. Karena disatu sisi nabi kita Muhammad ﷺ dan para sahabatnya yang dijamin masuk surga adalah orang yang kaya, namun nabi juga menyebutkan bahwa penduduk terbanyak di surga itu banyak dihuni oleh orang-orang yang miskin. Maka kita pasti akan bertanya, apakah Islam mengajak kita untuk menjadi miskin sebagaimana dalil yang sudah disebutkan? Tentu jawabannya tidak.
Islam juga tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan harta. Sebagaimana dalil yang sudah dikemukakan pula diatas. Islam tidak menganjurkan, mendorong serta memotivasi untuk menjadi miskin karena Islam juga menyebutkan tentang keutamaan bagi orang-orang yang kaya yang memiliki kemampuan untuk berinfak dijalan Allahﷻ. Karena tidak mungkin infaq itu dapat dilakukan kecuali dengan harta, dan tentu orang yang kaya adalah orang yang memiliki kelebihan harta yang Allahﷻ berikan kepadanya. Lantas kalau begitu apakah Islam menyeru dan memerintahkan pemeluknya agar menjadi orang-orang kaya? Maka jawabannya juga tidak. Karena Islam tidak memerintahkan dan mewajibkan kepada pemeluknya untuk menjadi orang kaya sebagaimana Islam tidak memerintahkan pemeluknya untuk menjadi orang miskin.
Islam hanya menyeru kepada pemeluknya yaitu muslim untuk dapat mengenal dan menjalankan perintah-perintah Allah dan ridho terhadap apa yang sudah digariskan dan ditentukan serta ditetapkan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Karena Ketika kita sudah mengenal, memahami serta menjalankan perintah-perintah-Nya, maka kita pun akan ridho terhadap setiap apa yang sudah Allahﷻ tentukan dan tetapkan untuk kita, apakah menjadi orang yang kaya ataukah menjadi miskin.
Ketika kita sudah memahami keutamaan dari masing-masing status yang Allah berikan kepada kita, baik kaya maupun miskin. Maka, manakah yang lebih mulia diantara keduanya? Menjadi seorang yang miskin ataukah menjadi orang kaya? Maka jawabannya adalah tergantung dari kondisi keduanya. Jika yang diberikan kemiskinan ia terus bersabar terhadap ketetapan yang sudah digariskan kepadanya serta senantiasa bertakwa kepada Allahﷻ maka tentu lebih mulia baginya. Dan orang yang diberikan kekayaan, yang dengan kekayaannya itu dia pandai bersyukur dengan senantiasa mengingat kepada-Nya dan melakukan berbagai amal kebaikan, maka tentu itu lebih mulia baginya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah radiallahu anhu menceritakan bahwa orang-orang fakir Muhajirin mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu merekapun berkata, “Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal!”. Maka beliauﷺ bertanya, “Apa itu?”. Mereka berkata, “Orang-orang kaya itu melakukan sholat sebagaimana kami melakukan sholat. Mereka melakukan puasa sebagaimana kami melakukan puasa. Mereka bershodaqah, tetapi kami tidak bershodaqah. Mereka memerdekakan budak, tetapi kami tidak memerdekakan budak”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah aku ajarkan sesuatu kepada kamu, yang dengannya kamu akan menyusul orang-orang yang telah mendahului kamu, dan dengannya juga kamu akan mendahului orang-orang setelah kamu, dan tidak ada seorangpun yang lebih baik dari kamu kecuali orang-orang yang melakukan seperti apa yang kamu lakukan?”. Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah”. Beliauﷺ bersabda, “Kamu bertasbih, bertakbir, dan bertahmid tiga puluh tiga kali setelah setiap shalat”.
Abu Shalih (seorang perawi hadits) berkata, “Kemudian orang-orang fakir Muhajirin kembali mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Saudara-saudara kami, orang-orang kaya, telah mendengar apa yang telah kami lakukan, lalu mereka melakukan seperti itu!”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
“Itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada orang yang Dia kehendaki”. (HR. Muslim)
Ketika kita ditanya tentang orang yang banyak harta maka secara naluri manusia kita pasti akan menjawab itu adalah orang kaya, sebagaimana ketika kita melihat orang yang sedang kesusahan secara ekonomi dan memiliki harta yang sedikit, maka secara manusiawi kita akan menjawab bahwa yang demikian adalah kemiskinan. Kita harus memahami bahwa hakikat kekayaan dan kemiskinan yang sesungguhnya bukan terletak pada harta, namun kaya yang hakiki adalah kekayaan hati, dan kemiskinan sebenarnya adalah miskin hati. Sebagaimana penjelasan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam kepada Abu Dzar radiallahu anhu, yang beliauﷺ bertanya kepadanya dengan mengatakan:
يَا أَبَا ذَرٍّ، أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى؟، قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَتَرَى قِلَّةَ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ؟ قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ :إِنَّـمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ، وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ
“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta sebagai kekayaan?” Aku menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya, “Berarti engkau memandang sedikitnya harta sebagai kemiskinan?” Aku menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kaya itu adalah kaya hati dan kefakiran itu adalah kefakiran hati.” (HR. Ibnu Hibban)
Kita dapat melihat diluar sana, banyak orang yang Allah berikan kelapangan harta namun tidak digunakan untuk berjuang di jalan Allahﷻ, sehingga meskipun secara dzohir (nampak) pandangan manusia dia kaya, namun dia selalu merasa kurang dari harta yang dipunya karena dia tidak pandai bersyukur kepada-Nya. Dan betapa banyak orang yang dilihat secara kasat mata terlihat miskin namun dia mampu mengelola hatinya untuk senantiasa bersyukur dan bersabar terhadap ketetapan Allahﷻ kepada dirinya, sehingga dia selalu qona’ah (merasa cukup) terhadap apa yang sudah Allahﷻ takdirkan kepadanya, yang itu merupakan kekayaan yang sesungguhnya.
Banyak orang yang termotivasi ingin kaya seperti Imam Abu hanifah yang merupakan ulama yang kaya, seperti sahabat Abu Bakar as Shidiq, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf atau para sahabat lainnya radiyallahu anhum yang kaya, namun tidak termotivasi bahwa mereka semua adalah para ulama, tidak termotivasi dengan bagaimana keimanan mereka, tidak termotivasi dengan ketakwaan mereka, yang mana mereka semua adalah orang yang alim. Tentu ini merupakan kesalahan dan kekeliruan, karena mereka hanya termotivasi terhadap kekayaannya saja, namun tidak termotivasi terhadap kealiman dan ketakwaan mereka kepada Allahﷻ.
Oleh karena itu yang perlu kita pahami bersama adalah, bahwa tolak ukur kemuliaan dan kebaikan seseorang bukanlah dilihat pada harta yang banyak dan bukan pula pada status sosial seseorang. Apakah dia seorang yang kaya ataukah seorang miskin, dan kemulian juga bukan dilihat dari seberapa tinggi gelar yang diraih oleh seseorang. Karena kemuliaan yang hakiki adalah dengan bertakwa kepada Allahﷻ. Berdasarkan firman Allahﷻ dalam surat al hujurat ayat 13. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣ ﴾
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al Hujurat: 13) Pada akhir ayat ini Allah Ta’ala secara tegas menjelaskan kepada kita bahwa kemulian sejati adalah berdasarkan tingkat ketakwaan seseorang. Takwa dalam artian yang dijelaskan oleh para ulama yaitu, menjalankan setiap apa yang diperintahkan Allahﷻ kepada kita serta menjauhi apa yang dilarang-Nya. Sehingga semakin tinggi ketakwaan seseorang kepada Allah Ta’ala, maka semakin tinggi pula kemuliaan orang tersebut disisi-Nya.
