MENUNTUT ILMU WAJIB ATAS SETIAP MUSLIM

Setiap manusia diciptakan oleh Alloh Azza wa Jalla dengan kemampuan akal yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kemampuan memahami sesuatu dengan cepat, dan ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Meskipun demikian, setiap manusia dianugerahi potensi kecerdasan yang dapat berkembang sesuai dengan usaha yang dilakukan. Potensi tersebut tidak akan berkembang dengan sendirinya, tetapi harus diasah dan dioptimalkan melalui proses belajar dan menuntut ilmu.

Akal merupakan salah satu nikmat terbesar yang Alloh Azza wa Jalla berikan kepada manusia. Dengan akal, manusia mampu membedakan antara yang benar dengan yang salah, antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan, serta mampu memahami berbagai petunjuk yang Alloh Azza wa Jalla turunkan melalui para rasul-Nya Alaihimus Salam. Namun, akal yang tidak dibimbing oleh ilmu akan kehilangan arah dan tidak mampu menjalankan fungsinya secara maksimal.

Oleh karena itu, mengoptimalkan akal harus dilakukan dengan belajar. Manusia yang tidak mau belajar akan sulit menjalankan tugas dan fungsinya sebagai khalifah fil ardh, yaitu sebagai pemimpin, pengelola, dan wakil Alloh Azza wa Jalla di muka bumi yang bertugas memakmurkan alam serta menegakkan keadilan sesuai dengan petunjuk-Nya. Bagaimana mungkin seseorang dapat memimpin, mengelola, dan memperbaiki kehidupan jika ia tidak memiliki ilmu yang menjadi pedoman dalam setiap Langkah kehidupannya?

Wahyu Pertama yang Diturunkan

Karena pentingnya ilmu, Alloh Azza wa Jalla menurunkan wahyu pertama bukanlah perintah untuk melaksanakan sholat, puasa, zakat, ataupun jihad.  Wahyu pertama yang Alloh Azza wa Jalla turunkan kepada Rosululloh Shollollohu ‘Alaihi wa Sallam adalah perintah untuk membaca.

Alloh Azza wa Jalla berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perintah iqra’ (membaca) menunjukkan bahwa belajar merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini. Sebelum seseorang beramal, ia harus mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Sebelum seseorang berbicara, dan memutuskan suatu perkara, atau menjalankan suatu pekerjaan, ia harus memahami ilmu yang berkaitan dengannya.

Imam Bukhori Rohimahulloh membuat sebuah bab pembahasan didalam kitabnya, “Bab tentang Ilmu sebelum berkata dan berbuat”, berdasarkan firman Alloh Azza wa Jalla:

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ

“Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Alloh serta mohonlah ampunan atas dosamu …” (QS. Muhammad: 19)

Maka Alloh Azza wa Jalla memulai dalam ayat ini dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.” (Shohih Bukhari, Daar at Ta’shil hlm: 243)

Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan apabila para ulama mengatakan bahwa ilmu adalah fondasi bagi seluruh amal perbuatan manusia.

Manusia Dilahirkan dalam Keadaan Tidak Mengetahui Apa-Apa

Imam Asy-Syafi’i Rohimahulloh pernah mengingatkan pentingnya belajar melalui sebuah bait syair yang sangat terkenal:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا
وَلَيْسَ أَخُو الْعِلْمِ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ

“Belajarlah, karena tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan tidaklah orang yang berilmu sama dengan orang yang bodoh.” (Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, Maktabah Ibn Sina, hlm: 118)

Syair ini mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Karena tidak ada manusia yang terlahir dalam keadaan langsung memiliki ilmu. Semua manusia memulai kehidupannya dari ketidaktahuan. Perbedaan yang muncul setelahnya bukanlah karena seseorang dilahirkan lebih berilmu daripada yang lain, tetapi karena kesungguhan dalam belajar dan menuntut ilmu. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia berada dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa.

Alloh Azza wa Jalla berfirman:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا

“Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apa pun.” (QS. An-Nahl: 78)

Karena itulah manusia dituntut untuk terus belajar sepanjang hidupnya. Kita dapat melihat bagaimana seorang bayi yang baru dilahirkan tidak dapat melakukan apa-apa selain menangis. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai belajar menggerakkan anggota tubuhnya, membalikkan badan, duduk, berdiri, berjalan, hingga akhirnya berlari. Semua itu merupakan proses pembelajaran yang Alloh Azza wa Jalla tetapkan dalam kehidupan manusia.

Demikian pula dengan perkembangan akal dan pemahaman. Semakin seseorang belajar, maka akan semakin luas wawasannya, semakin matang cara berpikirnya, dan semakin baik kemampuannya dalam memahami berbagai persoalan kehidupan. Sebaliknya, apabila seseorang berhenti belajar, maka perkembangan ilmunya pun akan terhenti.

Oleh karena itu, tidak akan pernah bisa sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Alloh Azza wa Jalla sendiri yang menegaskan hal tersebut dalam Al-Qur’an:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan ilmu dalam Islam. Orang yang berilmu memiliki cahaya yang akan membimbing dirinya dalam menjalani kehidupan, sedangkan orang yang tidak berilmu akan mudah terjatuh dalam kesalahan karena berjalan tanpa petunjuk.

Menuntut Ilmu Adalah Kewajiban Setiap Muslim

Karena begitu pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia, maka Islam menjadikan menuntut ilmu sebagai kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban ini berlaku bagi semua kalangan tanpa memandang usia, status sosial, tingkat ekonomi, maupun profesi. Baik anak kecil maupun orang tua, laki-laki maupun perempuan, orang kaya maupun miskin, pelajar maupun pekerja, rakyat jelata hingga pejabat, semuanya diperintahkan untuk terus belajar.

Rosululloh Shollollohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 224)

Hadits ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa menuntut ilmu bukan hanya anjuran, tetapi merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Bahkan, Alloh Azza wa Jalla memerintahkan Nabi Muhammad Shollollohu ‘Alaihi wa Sallam untuk senantiasa meminta tambahan ilmu.

Alloh Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)

Ayat ini memiliki makna yang sangat mendalam. Alloh Azza wa Jalla tidak memerintahkan Nabi-Nya Shollollohu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta tambahan harta, kedudukan, kekuasaan, atau kenikmatan dunia lainnya. Sebaliknya, Alloh Azza wa Jalla memerintahkan beliau Shollollohu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta tambahan ilmu. Ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan nikmat yang sangat agung dan menjadi kebutuhan utama bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupannya.

Ilmu Apa yang Wajib Dipelajari?

Setelah kita memahami kewajiban menuntut ilmu, muncul pertanyaan penting: ilmu apa yang wajib dipelajari oleh setiap muslim?

Para ulama menjelaskan bahwa ketika Alloh Azza wa Jalla menyebutkan kata ilmu dalam Al-Qur’an secara umum, atau ketika Rosululloh Shollollohu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan kata ilmu dalam hadits-haditsnya tanpa pembatasan tertentu, maka yang dimaksud pertama kali adalah ilmu syar’i atau ilmu agama.

Ilmu syar’i adalah ilmu yang membuat seorang muslim mengenal Penciptanya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat Alloh Azza wa Jalla, memahami tujuan diciptakannya manusia, mengetahui tata cara beribadah kepada Alloh Azza wa Jalla dengan benar, memahami agamanya dengan baik, mengenal Rosululloh Shollollohu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi yang wajib diikuti dan ditaati oleh semua manusia, serta juga memahami bagaimana bermuamalah/bersosial dengan sesama makhluk-Nya.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Rohimahulloh menjelaskan tentang firman Alloh Azza wa Jalla diatas dengan mengatakan:

“Firman Alloh Azza wa Jalla, وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا ‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’, mengandung dalil yang sangat jelas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla tidak memerintahkan Nabi-Nya Shollollohu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta tambahan sesuatu selain ilmu. Adapun yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang membuat seorang mukallaf mengetahui kewajiban-kewajibannya dalam ibadah dan muamalah, mengenal Alloh Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya, mengetahui hak-hak Alloh Azza wa Jalla yang wajib ditunaikan, serta mensucikan-Nya dari segala kekurangan.” (Fathul Baari, Maktabah Salafiyah, Juz I, hlm. 141)

Penjelasan Imam Ibnu Hajar Rohimahulloh ini menunjukkan bahwa setiap muslim wajib mempelajari ilmu yang berkaitan dengan kewajiban-kewajibannya. Seorang muslim harus mempelajari perkara-perkara yang berhubungan dengan hubungannya kepada Alloh Azza wa Jalla (hablum minalloh), seperti tata cara bersuci, shalat, puasa, zakat, haji, doa, dzikir, dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Selain itu, seorang muslim juga harus mempelajari perkara-perkara yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia (hablum minannas), yaitu semua yang berkaitan dengan muamalah/sosial seperti akhlak, adab, jual beli, hutang piutang, pernikahan, pendidikan anak, kepemimpinan, serta berbagai bentuk muamalah lainnya yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan mempelajari ilmu yang menjadi kewajibannya, seorang muslim akan memahami kedudukannya sebagai hamba Alloh Azza wa Jalla dan sebagai khalifah di muka bumi. Ia akan mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Ia akan mampu beribadah dengan benar, bermuamalah dengan baik, serta menjalani kehidupannya sesuai petunjuk Alloh dan Rasul-Nya.

Belajarlah sampai Ajal Menjemput!

Ilmu yang benar akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Oleh karena itu, selama hayat masih dikandung badan, seorang muslim tidak boleh berhenti belajar dan menuntut ilmu. Menuntut ilmu bukanlah kegiatan yang dibatasi oleh usia, jabatan, atau tingginya gelar akademik yang ditempuh seseorang. Menuntut ilmu juga tidak mesti harus duduk dibangku sekolah secara formal. Menuntut ilmu bisa kita lakukan dengan cara menghadiri majlis-majlis ilmu para ulama dan membaca buku-buku mereka, apalagi zaman sekarang semakin mudah bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu.

Para ulama salaf telah memberikan teladan yang begitu luar biasa dalam semangat menuntut ilmu. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya, bahkan tetap belajar hingga akhir hayat mereka. Salah satu kisah yang sangat masyhur adalah kisah Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh.

Dalam sebuah riwayat, dari Shalih bin Ahmad bin Hambal, putra dari Imam Ahmad bin Hambal Rohimahumalloh, menceritakan bahwa suatu ketika beliau melihat ayahnya membawa wadah tinta yang biasa digunakan untuk menulis dan mencatat ilmu. Lalu ada seseorang yang melihat hal tersebut kemudian bertanya kepada Imam Ahmad:

“Wahai Abu Abdillah, sungguh usia Anda telah lanjut, Anda adalah seorang imam bagi kaum muslimin, lalu mengapa Anda masih membawa wadah tinta ini?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Imam Ahmad Rohimahulloh memberikan jawaban yang kemudian menjadi ungkapan yang sangat terkenal di kalangan para penuntut ilmu. Beliau berkata:

مَعَ المَحْبَرَةِ إِلَى المَقْبَرَةِ

“Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur.”

Dalam riwayat lain, Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh juga berkata:

أَنَا أَطْلُبَ العِلْمَ إِلَى أَنْ أُدْخُلَ القَبْر

“Aku akan terus menuntut ilmu sampai aku masuk ke dalam liang kubur (meninggal dunia).” (Waratsatul Anbiya, Daar Al-Qasim, hlm: 23)

Perkataan ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu tidak memiliki batas akhir selama seseorang masih hidup. Selama akal masih berfungsi, tubuh masih bisa bernafas dan kesempatan masih ada, maka seorang muslim hendaknya terus belajar dan memperbaiki dirinya.

Perhatikanlah bagaimana semangat seorang Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh. Beliau adalah seorang ulama besar, imam ahlus sunnah, dan rujukan kaum muslimin dalam ilmu agama. Keilmuannya diakui oleh para ulama yang hidup pada zamannya maupun yang hidup setelahnya, namun beliau tetap merasa perlu untuk terus belajar dan menambah ilmu. Beliau tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya.

Jika seorang imam besar yang ilmunya begitu luas saja masih terus belajar hingga akhir hayatnya, maka bagaimana dengan kita yang ilmu dan pemahaman kita masih sangat terbatas? Tentu kita lebih membutuhkan untuk terus belajar, membaca, menghadiri majelis ilmu, mendengarkan nasihat para ulama, serta memperdalam pemahaman agama kita.

Diantara manfaat terbesar dari menuntut ilmu adalah membuat seseorang menyadari kekurangan dirinya. Orang yang benar-benar berilmu tidak akan mudah merasa paling pintar atau paling tahu. Semakin bertambah ilmunya, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang belum diketahuinya. Karena itu, jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang telah diperoleh, jangan pernah bangga dengan gelar akademik yang tinggi. Jadikanlah belajar sebagai bagian dari kehidupan kita hingga akhir hayat. Sebab semakin bertambah ilmu seseorang, maka semakin dekat ia kepada petunjuk Alloh Azza wa Jalla, semakin baik amal dan akhlaknya, serta semakin besar peluangnya untuk meraih keselamatan, keberkahan, dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat.

Maka benar apa yang dicontohkan oleh para ulama salaf, menuntut ilmu bukan hanya untuk masa muda, apalagi hanya untuk memperoleh gelar atau kedudukan yang tinggi, tetapi menuntut Ilmu merupakan perjalanan seumur hidup yang akan berakhir ketika ajal menjemput dan seorang hamba kembali menghadap Rabb-nya.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *